UMKM adalah singkatan dari usaha mikro, kecil, dan menengah: warung, bengkel, penjahit, katering, toko kelontong, sampai pabrik kecil. Pejabat sering menyebutnya tulang punggung ekonomi Indonesia, dan angkanya memang mendukung. Namun angka yang sama juga menunjukkan masalah terbesarnya: hampir semua UMKM masih sangat kecil, dan sedikit sekali yang berhasil membesar.

Seberapa besar perannya

Menurut Kementerian UMKM (Februari 2026), sekitar 57 juta pengusaha UMKM menyumbang 60,5% Produk Domestik Bruto (PDB), yaitu nilai seluruh barang dan jasa yang dihasilkan Indonesia dalam setahun. UMKM juga menampung 97% tenaga kerja.

Sumbangan UMKM ke ekspor jauh lebih kecil, yaitu 15,7%. Artinya kebanyakan UMKM menjual ke pembeli di dalam negeri, bahkan hanya ke lingkungan sekitarnya.

Mengapa jumlahnya berbeda-beda

Anda mungkin menemukan angka 64 juta, 57 juta, atau 30 juta UMKM di berita yang berbeda. Ketiganya tidak saling membantah, hanya cara menghitungnya yang berbeda.

Angka 30,21 juta berasal dari Sistem Informasi Data Tunggal UMKM (SIDT-UMKM) per 31 Desember 2025, yang dirangkum Kadin Indonesia. Angka ini hanya menghitung UMKM di luar sektor pertanian, dan menurut Kadin datanya lebih terverifikasi. Petani dan usaha pertanian yang tidak ikut dihitung menjelaskan sebagian besar selisihnya.

Jadi setiap kali membaca angka UMKM, lihat dulu siapa saja yang dihitung.

Hampir semuanya mikro

Dari 30.209.069 UMKM di luar pertanian pada 2025:

  • 30.119.928 (99,70%) adalah usaha mikro;
  • 73.828 (0,24%) adalah usaha kecil;
  • 15.313 (0,05%) adalah usaha menengah.

Pembagiannya dilihat dari modal usaha, tidak termasuk tanah dan bangunan: usaha mikro bermodal sampai Rp1 miliar, usaha kecil lebih dari Rp1 miliar sampai Rp5 miliar, dan usaha menengah lebih dari Rp5 miliar sampai Rp10 miliar.

Dari setiap 10.000 UMKM, hanya sekitar lima yang berskala menengah. Para ahli ekonomi menyebut kekosongan di tengah seperti ini missing middle. Masalahnya, usaha menengah biasanya menjadi tempat upah mulai naik, cara kerja mulai rapi, dan barang mulai bisa dijual ke luar negeri. Kalau lapisan ini tipis, jalan dari usaha mikro ke usaha besar terasa sangat curam.

Di bidang apa mereka berusaha

Tiga bidang terbesar menurut SIDT-UMKM:

  1. Perdagangan, baik grosir maupun eceran: 14,44 juta usaha.
  2. Penginapan, makanan, dan minuman: 6,41 juta usaha.
  3. Pengolahan atau produksi barang: 4,17 juta usaha.

Bidang teknologi informasi dan komunikasi baru sekitar 290 ribu usaha.

Jadi kebanyakan UMKM hidup dari kebutuhan sehari-hari: berdagang, memasak, dan melayani. Usaha seperti ini cenderung stabil, tetapi jarang tumbuh berlipat ganda setiap tahun seperti yang dicari investor modal ventura. Karena itu, sumber modal yang cocok untuk mereka juga berbeda, seperti dibahas di artikel Peta sumber modal usaha.

Jalan naik kelas

Beberapa program sudah membantu usaha kecil membesar. Pemerintah mencatat 1,17 juta peminjam Kredit Usaha Rakyat (KUR) naik kelas pada 2025. Holding Ultra Mikro BUMN (BRI, Pegadaian, dan PNM) melaporkan sekitar 2,3 juta peminjam naik kelas hingga triwulan II 2026.

Kementerian UMKM sendiri mengakui ada sekitar 15 sampai 20 instansi yang punya program pembinaan UMKM, dan menyebut penyatuan program sebagai kebutuhan mendesak.

Jumlah UMKM di Indonesia sudah sangat banyak. Yang masih kurang adalah usaha yang berhasil membesar. Untuk itu, modal saja tidak cukup. Usaha juga butuh pembukuan yang rapi, izin yang lengkap, sistem kerja, akses ke pembeli yang lebih luas, dan manajemen yang tidak bergantung pada satu orang pemilik.

Sumber

  • Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, “Pemerintah Dorong UMKM Naik Kelas, Tingkatkan Kontribusi terhadap Ekspor Indonesia”, Januari 2025. ekon.go.id
  • Kementerian UMKM, “KemenUMKM Perkuat Integrasi Kebijakan lewat Diseminasi ASPI”, 10 Februari 2026. umkm.go.id
  • Kadin Indonesia, “UMKM Indonesia”, data SIDT-UMKM per 31 Desember 2025. kadin.id
  • Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, “Kredit Usaha Rakyat 2025 Cetak Kinerja Solid”, 21 November 2025. ekon.go.id
  • BRI, “Lima Tahun Holding Ultra Mikro: Integrasi BRI, Pegadaian, dan PNM”, 15 September 2026. bri.co.id